Arsip Blog

Laporan Keuangan

Laporan Kas Alumni 86 SMP Negeri Prambanan


Perolehan Infaq
1. Uang kas bendahara : Rp. 2.950.000
2. Uang sisa konsumsi: Rp. 100.000
3. Iuran dadakan 3 alumni : Rp. 450.000
Total dana terkumpul: Rp. 3.500.000

Pengeluaran:
Dari dana Rp. 3.500.000,- tersebut telah tersalurkan kepada teman teman kita masing masing sebesar Rp. 500.000,- kepada alumni berikut ini :
1. Sartono/Bence
2. Suminto
3. Sunarti
4. Gendroyono
5. Sarono
6. Kasmin
7. Sumarmi

Total pengeluaran : Rp. 3.500.000

Saldo: 0

    , ,

    Smbr gbr: shigitendonesiaku.blogspot.com
    Hari masih pagi. Matahari pun belum tinggi, suasana masih remang. Dari beberapa rumah masih terdengar lantunan Al Qur'an. Beberapa orang sudah menikmati udara pagi dengan jalan-jalan. Namun tiba-tiba suasana berubah. Bumi bergoncang. Semakin lama semakin kuat. Semua manusia berusaha keluar rumah. Beberapa rumah tiba-tiba runtuh dan jeritan manusia mulai riuh terdengar. Aku berpegang dengann pohon pisang. Suasana jadi sangat menengangkan. Getaran yang tidak lebih dari 1 menit itu telah memporak-porandakan semuanya. Semua hampir tak percaya. Dalam waktu secepat itu tiba-tiba banyak rumah yang runtuh, banyak manusia yang terluka dan bahkan ada yang langsung meninggal dunia karena tertimpa reruntuhan. Yah, mereka tak pernah menduga sebelumnya bahwa kokohnya rumah yang mereka bangun bisa hancur dalam waktu kurang dari satu menit. Memang bencana datang dengan tiba-tiba, tak pernah ada pemberitahuan sebelumnya.

    Dahulu, di masa Khalifah Umar bin Khatab,  pernah juga terjadi gempa.Tetapi tidak sedasyat gempa 27 Mei 2006 di Yogjakarta. Tidak ada korban jiwa atau rumah runtuh. Ketika terjadi gempa kecil, orang jawa menyebutnya lindu, Umar bin Khatab  mengumpulkan orang-orang dan berpidato di hadapan mereka. “Wahai penduduk Madinah, alangkah cepat kalian berubah. Demi Allah, kalau sampai terjadi lagi gempa, aku akan pergi dan tidak lagi mau hidup bersama kalian."

    Tentu Umar berkata seperti itu bukan karena dia tidak ingin bertanggung jawab dengan warganya, tetapi lebih pada kerendahan sikapnya. Ada logika langit yang langsung mengingatkannya. Bagaimanapun semua yang ada di alam ini tunduk pada Allah Subhanahu wa ta'ala. Mereka akan melaksanakan setiap apa yang diperintahkan-Nya. Tidak ada kekuatan apapun yang mereka miliki kecuali atas ijin dan kehendak Allah, termasuk gempa. Bumi yang kita pijak pun tak lepas dari semua itu. Ia adalah makhluk Allah yang akan selalu melaksanakan apa yang diperintahkan-Nya. Karenanya, Khalifah Umar lebih memilih meninggalkan mereka jika mereka tak mau merubah perilaku tidak baiknya.

    Bagaimana tidak, Umar adalah sahabat terbaik setelah Abu Bakar. Ia menjadi Khalifah dan hidup di kurun terbaik setelah kurun paling baik di masa Rasulullah. Sedangkan gempa merupakan salah satu dari tanda-tanda dekatnya hari kiamat disertai tanda-tanda lainnya. Seperti dikabarkan oleh Rasulullah, “Tidak akan terjadi kiamat hingga ilmu diangkat, banyak terjadi gempa, zaman terasa berdekatan, dan banyak sekali fitnah dan kekacauan, yaitu pembunuhan.”

    Umar bin Khatab, hidup di masa di mana ilmu ada pada diri para sahabat. Ia punya majelis musyawarah yang diisi oleh sahabat-sahabat senior. Tapi begitu gempa terjadi, Umar seketika menyikapinya dengan iman yang tajam. Ini adalah pemahaman mendalam tentang logika alam yang disikapi dengan iman. Maka kalimat pertama, kesan pertama, impresi pertama, benar-benar kalimat iman, kesan iman, dan impresi iman.

    Ada bermacam pesan yang disampaikan bencana alam. Tapi satu yang utama. Ialah semua bencana itu mengajarkan kepada kita ketundukan, kepasrahan dan dorongan untuk bersikap khusyu’. Maka tidak ada pesan yang lebih penting untuk disimak dan diresapi, melebihi pesan ketundukan. Semua dimaksudkan untuk mendidik kita, agar semakin tunduk, menambatkan rasa takut kepada Allah. Allah SWT berfirman, Dan sekali-kali tidak ada yang menghalangi Kami untuk mengirimkan (kepadamu) tanda-tanda (kekuasaan Kami).... (QS. Al-Isra:59). Lalu di ujung ayat itu pula Allah menjelaskan maksud dari tanda-tanda kekuasaan-NYA tersebut, “Dan Kami tidak memberi tanda-tanda itu melainkan untuk menakuti.”

    Karena itu, ketika gempa juga datang menghampiri ke Kufah pada masa Abdullah bin Mas’ud. Maka Abdullah bin Mas’ud, menyampaikan pesan kepada orang-orang “wahai kalian semua, sesungguhnya Allah memberikan pesan ketundukan kepada kalian, maka tunduk dan takutlah kalian kepada-NYA.

    Sedangkan Abdullah bin Abbas, ketika terjadi gempa di masanya, diriwayatkan bahwa ia melakukan shalat sunnah seperti shalat gerhana. Sebagai perwujudan rasa tunduk dan takut kepada Allah SWT.

    Imam Ibnu Qayyim berkata, “Kadang-kadang dalam salah satu kesempatan, Allah SWT mengizinkan bumi untuk menghembuskan nafasnya, maka terjadilah gempa dahsyat. Lalu muncullah rasa takut dan tunduk pada diri hamba-hambaNYA, pasrah dan meninggalkan maksiat menggantikannya dengan khusyu’ kepada Allah dan penuh rasa penyesalan.”

    (Sing nulis: EE, adopsi dari berbagai sumber)

    Senin,  06 Juni  2005 adalah hari pertama  bagi Taufik, Pras dan teman-temannya untuk kembali masuk sekolah di SMPN Prambanan I, pasca gempa yang telah memporak-porandakan sekolah mereka. Taufik , (kelas 2 SMP) masuk pagi sedangkan Pras (kelas 1) masuk siang. Sekolah mereka sekarang harus terbagi dalam 2 shift, pagi dan siang karena sebagian kelas-kelas mereka hancur, atau membahayakan untuk dipakai sehingga belum memungkinkan semua siswa untuk masuk pagi. Namun demikian, mereka senang karena seragam sekolah mereka rata-rata masih bisa ditemukan diantara reruntuhan, sehingga hari ini mereka dapat belajar tetap dengan berseragam. Selain itu mereka beruntung karena mendapatkan bantuan tenda yang cukup bagus.

    Kondisi bagian depan SMP N 1 Prambanan 
    KBM di Tenda Darurat
    Pada hari pertama, semua siswa dikumpulkan dan satu-persatu diabsen oleh bapak atau ibu guru wali kelas, ini adalah sekelumit dialog yang sempat saya catat :
    ” Taufik Adisurya Nugroho!”, seru Pak Guru
    “Hadir Pak”, jawab Taufik sambil mengacungkan tangan kanannya.
    ”Gimana  le (nak), rumah kamu, rusak apa gak?”
    ”Hancur pak”.
    ”Tapi keadaan keluarga bagaimana, Bapak, Ibu, Nenek, Adik?”
    ”Alhamdulillah selamat PaK”
    ”Oh yoo syukur”.
    Demikian setiap kali satu anak selesai pindah ke anak berikutnya, beberapa kali Bapak Guru terdiam dan mengusap matanya, ketika salah satu dari anak-anak yang diabsennya ternyata tidak ada dan dijawab oleh teman-nya, ”Si A ikut jadi korban Pak, atau masih di rumah sakit pak, atau, keluarga mereka yang menjadi korban”. Pak Guru berusaha menahan keharuannya dan menguatkan mental anak-anak dengan kata-kata yang bijak dan menyejukkan, meskipun dalam hatinya sendiri beliau menangis – karena rumahnya sendiri juga hancur dan dua anggota keluarganya juga masih berada di rumah sakit.

    Kondisi SD yang berada di sebelah SMP Negeri 1 Prambanan

    Kondisi SD Negeri Sanggrahan lebih memprihatinkan, bangunannya hancur sama sekali. Di halaman sekolah baru bisa didirikan 2 lokal tenda (dari PMI) yaitu kantor guru dan kelas VI karena puing-puing dibekas bangunan yang runtuh belum sempat dibersihkan. Namun Ujian Nasional susulan telah diselenggarakan di tenda tersebut, sementara anak-anak kelas 1 s.d. kelas 5 belum tahu kapan mereka bisa masuk sekolah.

    Ruang Kantor Guru dalam tenda
    Ruang kelas VI

    Meskipun kondisi sekolah mereka seperti itu, mereka tetap mempunyai semangat. Dessy dan Febi, dua dari sekian banyak anak-anak korban gempa di Sanggrahan yang kehilangan rumah dan sekolah mereka, berdiri di atas reruntuhan, menatap fajar yang sedang menyingsing. Meskipun masih diselimuti trauma yang mendalam, dengan kelelahan fisik dan psikis yang luar biasa, mereka tetap mencoba optimis, menatap masa depan mereka… dengan keuletan dan kerja keras, pasti masih ada masa depan buat mereka,  seperti pastinya mentari yang terbit di pagi hari, menggantikan  kedinginan dan kegelapan malam..
    “Maka sesungguhnya sesudah kesukaran itu akan ada kemudahan, Sesunggunya sesudah kesukaran itu ada kemudahan” (QS. Al-Insyiroh 5-6)

    (Sing Nulis : Agus Budihardjo)

    ,

    Gempa bumi yang mengguncang Prambanan, Sabtu 27 Mei 2006 menyisakan kenangan pahit dan mengerikan bagi warga desa kami... Namun diantara kepahitan tersebut masih terselip sisi-sisi kemanusiaan yang membuat kita terkenang kembali pada beberapa kejadian masa lalu. Seperti ketika keluarga kami menemukan barang-barang kenangan diantara puing-puing rumah kami.




    (Sing nulis: Agus Budihardjo)

    Demikian, beberapa warga menyebutnya untuk peristiwa gempa dahsyat, Sabtu 27 Mei 2006, yang telah menghancurkan desa kami. Untuk Wilayah Rt. 09/RW 03, dimana setiap RT terdiri dari kurang lebih 50 KK, rata-rata tidak lebih dari 5 rumah yang masih bisa dipergunakan. Sisanya hancur, termasuk sekolah TK, SD, SMP dan Balai Desa yang kebetulan letaknya di wilayah RT kami. 

    Peristiwa itu tak bisa digambarkan dengan kata-kata. Bumi seperti digoncang dari kanan ke kiri, sebentar kemudian beralih arah dari depan ke belakang, kadang-kadang seperti diputar, rumah-rumah meliuk-liuk seperti pohon yang diterjang angin keras, lantai-lantai rumah terangkat ke atas, barang-barang berjatuhan, bagian-bagian rumah beterbangan menerjang setiap benada yang ada di sekelilingnya, bumi terbelah dibeberapa tempat, air menyembur dengan deras dari setiap lubang ditanah, dari sumur-sumur, kran-kran air jebol, sungai langsung meluap, sehingga tidak heran mereka percaya ketika isu tsunami beredar. Kemudian suara menggemuruh datang (ada yang menyebut seperti suara pesawat dari dalam tanah) diikuti dengan suara ”buuum” bersahut-sahutan, yang berasal dari rumah-rumah yang roboh hampir berbarengan, menyisakan puing-puing, dan debu yang mengepul dimana-mana. 

    Sesaat disusul oleh suara jeritan, lolongan, tangisan, dari setiap sudut, masing-masing mencari keluarganya, berlarian ke sana-kemari. Berikut nukilan cerita dari beberapa warga yang sempat saya catat :

    Mbah Dibyo

    Mbah Dibyo tergolek di kamar
    Mbah Dibyo (65 tahun), saat kejadian beliau sedang berada di WC, tiba-tiba kamar mandi terasa berguncang, lama-lama makin keras, barang-barang mulai rontok, tanpa sempat mengenakan pakaian beliau mencoba berlari keluar. Berhasil lolos dari kamar mandi, tapi kepalanya keburu bocor tertimpa genteng, namun dia masih kuat berlari... sampai di depan pintu, rumahnya ambruk sebagian, menguburnya pada bagian kaki sampai pinggang... anak perempuannya ”yuyun”  juga sudah berlumuran darah mencoba menolong-nya tapi malang reruntuhan berikutnya termasuk balok kayu menghantam punggungnya. Anak laki-lakinya – Didik tidak bisa berbuat banyak karena sedang melindungi anak-nya (puput) yang berumur 7 tahun. Sampai gempa berakhir mereka masih berada di dalam rumah. Puput selamat, Didik bocor kepalanya, mbah Dibyo kakinya hancur dan yang paling parah mbak Yuyun, yang sampai sekarang masih di RS. Tulang belakangnya retak dan menurut dokter kemungkinan besar akan menderita kelumpuhan permanen... Inna lillahi wainna ilaihi rojiun. Keluarga mereka bertempat tinggal persis di depan rumah saya.

    MAS ALIB

    Tidak berbeda dengan yang diceritakan Mbah Dibyo, Mas Alib sedang melayat Saudaranya yang meninggal semalam. Waktu itu ada 5 orang yang sedang bertahlil didepan mayat.. Kejadiannya begitu membuat panik sehingga kelima orang tersebut tidak sempat memikirkan nasib si mayat... Rumah roboh dan menimpa si mayat, tanpa ada yang sempat membawanya keluar.



    Mbah Manto dan Si Dul, anaknya
    Mbah Manto
    Berada di luar rumah tidak dijamin selamat. Waktu itu Bulik Manto sedang menyapu dalam jarak lima meter dari tembok rumahnya... Tiba-tiba gempa itu terjadi, Bulik hanya sempat menjerit-jerit melihat rumahnya seperti ”pasir di ayak”... dan dia menyaksikan batu bata beterbangan mengarah kedirinya secara refleks, tangannya berusaha menangkis namun seberapalah keuatannya, hasilnya tangan beliau patah, kepalanya juga tetap bocor terkena batu-bata.
    Ditengah kondisi yang demikian, anak-nya si Dul termasuk salah satu yang keracunan karena mendapat ransum yang telah kadaluwarsa....

     Kisah Sumi
    Kakinya tertimpa balok kayu sehingga harus dioperasi, beruntung bayi dalam kandungannya tidak mengalami gangguan. Beruntung juga anak pertamanya (7 tahun) yang sedang menonton TV, meskipun terkubur setengah badannya ternyata hanya menderita lecet-lecet saja. Tampak pada gambar Sumi setelah kembali dari RS harus beristirahat di tenda darurat karena rumahnya hancur total.


    Mas Joko
    Seperti Mbah Dibyo, Mas Joko sedang di WC saat terjadi gempa.., Kebesaran Alloh telah menyelamatkannya, begitu rumah berguncang dia mencoba berlari namun pintu kamar mandi keburu melesak kedalam tanah sehingga tidak bisa terbuka. Mas Joko hanya bisa pasrah sambil berdoa dan telungkup disamping bak kamar mandi.. Dan Bak itu telah menyisakan ruang baginya untuk bertahan hidup dibawah reruntuhan.... Subhanalloh... Kayaknya Mas Joko udah baca e-mail dari Fanany tentang Teori Segitiga Kehidupan ya?


    Mas Haryono dengan bekas luka di punggung dan kepala
    Mas Haryono
    Sama-sama sedang mandi, tapi nasib mas haryono agak naas, dia berhasil keluar dari kamar mandi (masih tanpa pakaian lho) pintu samping terkunci, sehingga dia memutuskan lewat pintu depan... Tapi rumah bagian depannya keburu rubuh dan mas haryono tertimpa.. padahal kamar mandi dan rumah bagian belakang-nya ternyata masih utuh. Termasuk anak dan isterinya yang masih berada dikamar belakang – selamat.... Seandainya saja, dia bertahan dikamar mandi... (Kalau tahu ya Mas..)


    ISU TSUNAMI
    Jalan terbelah
    Sebagian dari kita bilang ”Gak Masuk Akal” kan Jogja dan Prambanan  jauh banget dari  Laut?
    Tapi coba bayangkan kalau kita ada disana waktu kejadian.. Jalan dan tanah terbelah dan mengeluarkan air, sumur-sumur meluap, kran-kran jebol dan menyemprotkan air tanpa henti, sungai tiba-tiba banjir tanpa ada hujan, dan  yang tidak kalah mengerikan adalah gelombang manusia yang memenuhi jalanan . Desa kami terletak di jalan raya jogja solo km. 18. Tiba-tiba ada eksodus besar-besaran sambil berteriak ”tsunami-tsunami”.. Semua orang berbalik arah, jalan raya penuh dengan arus dari jogja ke arah solo baik menggunakan mobil, sepeda motor, sepeda maupun berlarian. Bahkan pak Polisi pun ikut mengajak warga agar segera berlari. Sebagian dari mereka meninggalkan sanak-saudara mereka yang tengah terluka akibat gempa.... Dalam suasana sedemikian panik, apakah kita masih berfikir logika?


    (Sing nulis: Agus Budihardjo)

    ,

    “Insya Allah”, suaraku lembut menanggapi permintaan anakku.
    “Tapi Insya Allah, yang benar lho Bah”, sahut anakku. Aku hanya menatap wajahnya dan tersenyum berusaha menyakinkan bahwa minggu depan aku bisa melunasi uang sekolahnya yang sudah nunggak beberapa bulan. Dalam keluargaku, aku berusaha menanamkan nilai-nilai islam. Termasuk ketika berjanji pada siapapun aku selalu menekankan agar bilang Insya Allah, kalau Allah mengehendaki. Tetapi nampaknya anak-anakku sudah terlalu sering kecewa dengan Insya Allah yang kukatakan padanya. Kecewa, karena janji yang kusertai dengan ucapan Insya Allah hampir selalu tak bisa kutepati.

    Dua bulan yang lalu misalnya. Anisah anak putriku yang masih kelas VI SD terpaksa menangis dan berontak karena janji yang kusertai dengan Insya Allah belum bisa terpenuhi . Waktu itu ia minta dibelikan sepatu karena bagian bawah sepatunya sudah jebol. Tetapi karena kondisi keuanganku yang belum memungkinkan akhirnya sepatu tidak jadi bisa terbeli.

    “Abah tu selalu begitu. Katanya hari ini mau membelikan. Pakai Insya Allah lagi. Katanya kalau pakai Insya Allah itu nggak boleh untuk main-main. Berjanji padahal niatnya memang tidak mau menepati, terus untuk menyenangkan hati bilang Insya Allah.”

    “Itu benar, Dik. Kita ndak boleh bilang Insya Allah untuk main-main. Dan Abah juga tidak main-main waktu bilang Insya Allah kemarin. Hanya memang Allah belum menakdirkan Abah mampu membelikan sepatu untuk Adik hari ini meski Abah sudah berusaha. Makanya, Adik juga harus berdoa, berdoa agar Allah member rejeki pada kita dan Adik juga harus minta sepatu pada Allah karena hanya Allahlah yang bisa memenuhi kebutuhan kita termasuk sepatu untuk Adik”, kataku menyakinkan.

    Aku tidak ingin anakku mempunyai image bahwa kata Insya Allah sering aku gunakan untuk menutupi ketidakmampuanku memenuhi keinginan-keinginannya, dan memang aku tidak pernah bermaksud menjadikan kata Insya Allah itu sebagai senjata pamungkasku untuk tidak memenuhi kebutuhan mereka. Siapa sih yang tidak senang memenuhi kebutuhan anak-anaknya, apalagi kebutuhan yang pokok. Orang tua mana yang suka disebut tidak bertanggung jawab. Pasti Anda pun tidak suka, kan. Sama. Aku juga begitu. Bahkan aku ingin anak-anakku tidak ikut merasakan beban bagaimana susahnya mencari uang. Karenanya, aku selalu berusaha mencukupi kebutuhan mereka sebelum mereka merasa kurang dicukupi. Aku tidak ingin anak-anakku mempunyai masalah dalam sekolahnya termasuk dalam urusan keuangan sehingga mereka dipanggil dan diberi deadline. Sungguh aku tidak menginginkan seperti itu.

    Dulu sewaktu masih di SMA aku pernah merasakan malunya dipanggil ke kantor BP gara-gara belum bisa membayar uang sekolah yang sempat nunggak beberapa bulan, padahal ujian semester sudah akan dilaksanakan. Malu karena orang tuaku harus ke sekolah untuk menyakinkan bahwa orangtuaku benar-benar akan melunasi jika memang sudah punya uang. Malu dan merasa kasihan pada orang tuaku karena harus susah-susah datang ke sekolah.
    Tetapi waktu itu aku bisa menyadari maksud dari sekolah memanggil orang tuaku. Mereka ingin menyakinkan bahwa memang benar-benar saya belum dikasih uang untuk bayar sekolah. Karena sering terjadi kasus siswa tidak membayarkan uang sekolahnya padahal orang tua mereka sudah memberinya. Karenanya, aku tidak mau hal seperti itu, dipanggil ke kantor gara-gara belum bisa melunasi uang sekolah, terjadi pada anakku.

    Dan pagi ini, hal yang tidak kuinginkan itu akan terjadi pada anakku. Aku yakin bahwa kalau Ahmad, anak pertamaku, tidak sanggup melunasi biaya sekolah yang sempat nunggak beberapa bulan itu tidak terbayarkan, dia pasti akan dipanggil ke kantor. Aku tidak ingin hal itu terjadi, maka ketika anakku mengatakan bahwa Senin besuk uang sekolah harus dilunasi, aku katakan Insya Allah, meski aku belum mempunyai cara bagaimana uang satu juta limaratus rupiah itu bisa aku dapatkan dalam waktu satu minggu.

    Aku biasa melunasi biaya sekolah anak-anakku dari hasil kerja sampinganku menulis di beberapa media masa. Lumayan satu artikel kadang dihargai tiga ratu sampai lima ratus lima puluh ribu. Untuk sebuah puisi yang pernah diterbitkan oleh media masa lokal misalnya, aku pernah mendapat honor dua ratus lima puluh ribu. Bahkan aku pernah menulis sebuah artikel tentang pendidikan di sebuah media masa aku mendapatkan honor empat ratus ribu ratus ribu rupiah. Karena artikelku di muat di halaman utama media masa itu. Dan satu minggu yang lalu, Alhamdulillah aku bisa membelikan sepatu anakku dari hasil menulis cerita anak yang dimuat di majalah anak.

    Aku memang tidak bisa mengharapkan, untuk memenuhi kebutuhan keluargaku dari hasil kerja mengajarku. Anda pasti tahu, apalagi kalau Anda juga guru honorer, berapa gaji yang aku terima setiap bulannya. Sangat tidak mencukupi. Ya, Alhamdulillah sebagai guru honorer aku mendapatkan insentif setiap enam bulan sekali. Biasanya uang insentif itu aku alokasikan untuk kebutuhan-kebutuhan yang besar dan terencana. Meski demikian tetap juga semua itu belum mampu menutup kebutuhan keluargaku. Apalagi kalau pas aku tidak bisa mengerjakan kerja sampinganku, menulis, karena sakit seperti minggu ini. Beban kebutuhan yang harus dicukupi sama bahkan bertambah sementara income berkurang. Jadinya seperti pagi ini. Aku merasa terkejut, meski keterkejutan itu aku sembunyikan agar anakku tidak melihat, karena begitu besar beban yang harus aku selesaikan untuk satu minggu ke depan. Meskinya, itu tidak terjadi ketika uang insentif satu juta enam ratus rupiah kemarin tidak aku gunakan untuk berobat ke rumah sakit dan harus menjalani operasi karena ada batu di saluran kencingku.

    Sebelumnya aku memang berencana uang insentif itu untuk biaya sekolah anakku. Tapi beginilah hidup, terkadang tidak sesuai dengan rencana kita. Ini pulalah yang sering aku katakan pada anak-anakku, bahwa seberapa besar dan mulianya keinginan kita, kita tidak bisa memastikan keberhasilannya. Karenanya, usaha keras untuk mewujudkan keinginan itu harus disertai dengan doa dan tawakkal agar tidak sombong tatkala berhasil mewujudkannya dan putus asa ketika Allah masih menahannya. Ucapan Insya Allah itulah yang harus selalu kita sertakan dalam setiap janji dan transaksi dalam kehidupan kita. Dan Alhamdulillah anakku mulai paham.

    Tetapi aku tidak tahu kenapa pagi ini anakku sangat khawatir dengan ucapan Insya Allah yang aku keluarkan. Apakah dia sudah bisa merasakan sulitnya mencari uang sebesar itu dalam waktu satu minggu sehingga ia merasa khawatir atau… dia mulai tidak percaya lagi pada kemampuan orantuanya…. “Ah, ya Allah hindarkan itu darinya ya Allah”, desah hatiku.

    ****

    Pukul enam tiga puluh menit. Harusnya jam segini aku sudah di sekolah. Tetapi motorku ikut ngadat. Berkali kali aku coba nyalalakan tidak bisa juga. Karenanya, aku terpaksa bersepeda. Hari ini jalan aku rasakan sangat padat, menghambat. Aku lihat jam. Pukul 06.45 sementara sepeda yang kukayuh seolah lambat berjalan padahal aku merasa sudah berusaha menggenjotnya sekuat mungkin. Sementara aku juga bisa melihat murid-muridku berkali-kali mendahuluiku dengan sepeda motornya.

    Pas pukul 07.00 dengan keringat yang agak lumayan, aku sampai di sekolah, terlambat 10 menit. Aku tidak langsung masuk ke kantor atau ke kelas tapi ke kamar kecil, wudlu dan berusaha menghilangkan jejak kelelahanku. Selalu aku berusaha untuk tampil prima di depan murid-muridku.

    “Assalamu’alaikum warahmatullohi wa barakatuhu”, salamku pada anak-anakku mengawali kegiatanku di kelas.

    “Tumben terlambat, Pak”, salah seorang nyeletuk setelah menjawab salamku. Alhamdulillah ada celah yang bisa aku gunakan untuk memberi masukan moral pada mereka.

    “Yah, beginilah hidup itu. Kamu yakin kan Bapak tidak sengaja datang terlambat. Bahkan kalau kalian percaya sebenarnya Bapak pingin berangkat lebih pagi hari ini.”

    “Ah, nggak usah aja, Pak. Terlambat lebih baik kok”, Andi, siswa yang terkenal paling banyak punya skor pelanggaran di sekolahku, menyela. Yang lain Cuma menoleh kepadanya, tapi aku bisa menangkap ketidaksetujuan mereka pada Andi , temannya.

    “Ya, itu bagi kamu, tapi aku lihat teman-temanmu tidak seperti itu. Bapak ini kan jadi guru favorit di kelas ini bahkan ada yang cinta lho sama Bapak…..”, candaku untuk mengurangi ketegangan yang pelan kurasakan menyusup di kelas ini.

    “Ciieee….,” suara mereka hampir bersamaan.

    “Pak mana cerita, pagi ini?”

    “Oh, iya…. Begini… tapi dengarkan baik-baik ya dan nanti aku ingin tahu hikmah apa di balik cerita yang Bapak sampaikan…, siap mendengarkan? Begini,…”

    Lanjutku tanpa meminta tanggapan mereka. Suasana kuusahakan tenang. Aku mengawali cerita dengan membuat atmosfir cerita yang menyedihkan, dikripsi latar kondisi social cerita aku bikin sedemikian rupa hingga mereka masuk ke nuansa ceritaku. Aku lirik Andi meski masih belum konsentarsi, tapi aku masih bisa melihat keinginannya untuk mendengarkan ceritaku.
    Setelah mereka masuk dalam atmosfir ceritaku, yang kubuat selama kurang lebih 3 menit aku mulai menyebutkan tokoh dan permasalahannya.

    “Di keluarga itu hanya hidup seorang ayah dan seorang anak yang usianya satu tahun lebih tua dari usia kalian. Sang ibu meninggal karena sakit asma. Tetapi kematian ibunya tidak membuat anak itu membaik perilakunya. Anak itu bernama Anton”. Sengaja nama itu aku ambil agar ada kemiripan dengan nama Andi, muridku yang mempunyai skor pelanggaran tertinggi. Sekali lagi aku lirik Andi. Tidak ada perubahan yang bisa kutangkap.

    “Ton, sampai kapan kamu akan berbuat seperti itu? Selalu bolos, main sampai larut malam dan tidak pernah melakukan sholat. Bahkan aku dengar dari warga desa ini kamu mulai minum, ya.”. Suaraku kubuat seperti seorang Bapak yang sedih melihat anaknya selalu berbuat tidak baik dan sulit untuk diingatkan.

    “Alah… bapak ini lebih percaya pada anak atau pada orang lain sih…. Emangnya apa ruginya mereka dengan tingkahku. Mau minum, ngrokok atau yang lainnya, Ya terserah saya… toh aku tidak merugikan mereka, tidak menggunakan uang mereka dan tidak mengganggu mereka”

    “Tapi mereka terganggu, Ton”

    “Salah sendiri mereka merasa terganngu. Alahh sudahlah…. Bapak nggak usah bela mereka… aku keluar dulu”

    Orang tua itu sangat sedih. Ia tidak lagi tahu cara apa yang bisa menyadarkan anaknya untuk menghentikan kelakuan tidak baiknya. Setiap malam ia berdoa untuk anaknya. Tapi sedikitpun tidak ada perubahan yang diperlihatkan anaknya. Bahkan terakhir ia dengar anaknya suka berkelahi sambil mabuk.

    Saking putus asanya ia ambil paku, lalu ketika ia melihat ataupun mendengar anaknya melakukan kejahatan ia pakukan paku itu di dinding kamarnya. Setiap hari dan setiap saat. Pernah anaknya marah dan menganggap dirinya gila. Ketika ia katakan bahwa paku itu ia pakukan ketika ia mendengar atau melihat kelakuan tidak baik yang dilakukannya. Ia marah sambil mendobrak pintu dan tidak pulang beberapa hari.

    Sampai suatu ketika, saat malam sunyi ia melihat dari celah pintu kamarnya ayahnya sedang berdoa dan ia mendengar doa yang dilantunkannya, ia berhenti dan terdiam. Hingga akhirnya ia masuk kamar ayahnya. Tapi ia sangat kaget karena dinding kamar ayahnya telah dipenuhi oleh paku-paku.

    “Bapak…., apa ini? Kenapa Bapak memaku dinding ini semuanya. Kenapa dinding ini jadi penuh paku”. Sang Bapak menatap. Matanya berkaca-kaca. Dengan suara parau ia berkata,”Anakku, meski kamu tidak pulang beberapa saat lamanya, tapi orang tuamu ini selalu mendengar apa yang terjadi dengan dirimu. Apa yang kamu lakukan selalu aku perhatikan. Dan ketahuilah paku yang menempel di seluruh dinding kamar ini adalah jumlah kesalahan dan dosa yang sempat Bapak lihat dan dengar selama ini. Maafkan aku, anakku. Bapakmu ini tidak bisa mengikuti dan tidak mampu lagi menyuruhmu untuk berbuat baik. Bapakmu hanya bisa menghitung dan memperhatkan jumlah kesalahanmu sehingga untuk setiap kesalahan dan dosamu Bapakmu hanya mampu meminta ampunan pada Allah untuk kamu dan meminta ampunan pada Allah karena Bapakmu tidak bisa mendidikmu. Tidak bisa memikul amanah yang diberikan oleh Allah dan oleh almarhumah ibumu….”

    Deras mengalir air mata sang ayah. Tak lagi sanggup ia berkata lebih banyak. Dan anehnya Anton juga demikian. Ia tak bergerak, berdiri terpaku. Ada air bening menetes dari matanya. Ia tak sanggup berkata juga. Bahkan sesaat kemudian meledak tangisnya. Ia memeluk ayahnya yang kurus dan kering. Menangis dan menangis.

    “Bapak…., sebanyak itukah kesalahan dan dosaku “, suaranya di antara sedu sedannya.

    “Lalu apa yang harus aku lakukan untuk menebus semuanya, Bapak?” Ada kelegaan dan keharuan di hati sang ayah. Ia elus kepala Anton. Ia coba peluk erat-erat sebelum akhirnya perlahan dia lepaskan.

    “Anakku Allah Maha Pengampun, selagi hambanya datang padanya minta ampun walau dengan segunung dosa, ia akan mengampunimu. Karenanya mintalah ampun pada Dia dan berjanjilah untuk mencintai-Nya. Dan aku akan melepas paku itu satu persatu setiap kali mendengar dan melihat kebaikan dan ketaatan yang kamu lakukan”.

    “Demikianlah hingga akhirnya paku yang tertempel di dinding ayahnya itu dicabut semua satu persatu oleh ayah Anton Dan Anton menjadi anak yang baik. Ok, selesai cerita Bapak”.

    Aku mengakhiri cerita dan tidak lupa aku melihat wajah mereka. Tidak ketinggalan wajah si Andi, muridku yang mempunyai skor pelanggaran di sekolah tempat aku mengajar. Luar biasa. Saat aku lihat wajahnya, kentara sekali ia terbawa oleh ceritaku. Bahkan aku sempat melihat ada bening air di sudut matanya seperti terlihat juga di mata beberapa siswa yang lain. Tapi ia segera memalingkan wajah begitu ia melihat mataku tertuju padanya.

    “Ok, sekarang gilaran kamu menyampaikan hikmah dari cerita itu,” suaraku berusaha mengembalikan mereka pada realita belajar. Beberapa saat kemudian mereka menyampaikan hikmah yang ada dalam cerita tadi. Pas sepuluh menit berlalu. Aku akhiri sesi cerita lalu aku mulai masuk pada pembahasan pelajaran.

    ****

    Sepeda jengki segera kukayuh setelah semua siswa pulang. Tetapi di sudut pertigaan jalan, aku lihat sosok muridku yang paling banyak mendapat skor pelanggaran.

    “Kok, berhenti , Ndi? Ada apa?”

    “Nggak papa, Pak. Emm..Cuma mau nanya. Biasa Bapak ada di rumah jam berapa?”

    “Untuk hari ini, Insya Allah jam 16.00 Bapak di rumah, emang ada apa?”
    “Nggak ada apa-apa kok, Pak. Cuma mau main aja nanti, bolehkan , Pak?”

    “Woww kenapa tidak? Boleh sekali. Malah Bapak merasa mendapat kehormatan dikunjungi..”

    “Dikunjungi murid yang paling banyak mendapat skor pelanggaran paling banyak,…. Ya, kan, Pak….”

    Tawaku memecah ketegangangan. Bisa juga si Andi ini bergurau.

    “Ok, dah ya Bapak duluan… benar ya, nanti kutunggu lho. Jangan ngapusi…”

    “Insya Allah, Pak?”

    Aku semakin terkejut dengan kata terakhir ini. Sejak kapan Andi menggunakan kata Insya Allah. Ah, semoga ini bukan permainannya. Pintaku dalam hati.

    ***
    Pukul 15.00 , setelah aku selesai sholat asyar di masjid, komputer segera kunyalakan. Saya harus membuat beberapa artikel dan cerita untuk mengejar deadline janjiku pada anakku untuk melunasi uang sekolahnya. Aku harus segera mengirim artikel-artikel itu agar bisa segera dimaut. Dan jam empat sore ini, aku juga akan melihat bukti ucapan Andi yang disertai Insya Allah.

    Luar biasa ketika satu artikel sudah aku selesaikan aku melihat Andi dan orang tuanya mengetuk pintu. Aku tidak tahu maksud anak itu.

    “Assalamu’alaikum warahmatullohi wa barakatuhu”, sapa Andi

    “Wa’alaikum salam warahmatullohi wa barakatuhu. Wah benar-benar satu kehormatan, Bapak dikunjugi ....“

    “Murid yang paling banyak mendapat skor pelanggaran di sekolahnya” Sahut Andi sebelum aku sempat menyelesaikan ucapanku. Senyumku dan tawa kami mengembang.

    “Begini Pak, ini Andi anak saya. Murid yang paling banyak mendapat skor pelanggaran di sekolah Bapak, nggak tahu kok tiba-tiba saja tadi mengajak saya berkunjung ke sini. Dan dia ngotot ndak mau pindah dari sekolah Bapak padahal saya sudah menyiapkan sekolah untuk anak saya ini. Dia kemarin kan dapat surat peringatan lagi kalau sampai dia melakukan pelanggaran lagi pihak sekolah akan mengembalikan dia ke saya selaku orang tuanya. Kemarin saya sudah cerita sama anak saya. Tapi dia ngotot tetap nggak mau. Maka saya minta Bapak membantu anak ini di sekolah agar tidak melakukan pelanggaran lagi”.

    “Bukan itu kok , Pak alasan pertama saya.” Sahut Andi
    “Lho, kok… lalu apa?” Ada nada heran pada orang tua Andi. Saya hanya akan mengenalkan Bapak pada Guru Saya yang telah membantu Bapak dalam mempopulerkan media masa Bapak”.

    “Bapak, Guru saya ini adalah penulis yang sering nulis artikel dan cerita bersambung di media itu Pak. Dan salah satu cerita yang ada di dalam cerita yang ditulisnya itulah yang menyadarkan saya pada kekuatan kata Insya Allah. Maka kalau saya boleh meminta, Bapak jadikan dia sebagai penulis tetap di media Bapak”.

    Kami berdua terkejut. SubhanAllah. Luar biasa dan sama sekali tak terpikir olehku kata-kata Andi. Ia ternyata memiliki kecerdasan yang luar biasa.

    “Benarkah begitu? Apakah Bapak yang bernama Pak Rahmat atau Anggada.” Tanya bapak Andi seketika.
    “Benar Pak. Darimana Bapak tahu nama samaran saya.?”Tanyaku keheranan.
    “Saya adalah direktur Angkasa sebuah surat kabar lokal yang sering memuat tulisan Anggada. Dan salah satu judul artikel yang banyak mendapat respon dari pembaca adalah Kekuatan Insya Allah. Dan hari-hari ini saya memang sedang mau merekrut staf redaksi untuk kolom renungan”. Kalau Bapak mau Bapak bisa bekerja di tempat saya.
    “Maaf, dan terimakasih , Pak. Kalau bekerja di tempat Bapak mungkin belum bisa karena saya sudah mengajar di sekolah dimana putra Bapak belajar dan Alhamdulillah saya bisa menikmatinya.”
    “Oh, iya ya maaf. Kalau begitu dan saya tidak ingin Bapak menolaknya, bagaimana kalau Bapak menjadi penulis tetap di kolom renungan itu.”
    “Ya, insya Allah kebetulan ini saya juga sedang menulis artikel berkaitan dengan bagaimana menjadikan masalah menjadi teman”.
    “Ok, kalau begitu saya kira misi kita sudah selesai Andi. Kita pulang atau gimana…”
    “Ya, terserah Bapak. Aku Cuma ngikut aja”
    “Ok, Pak kami pamit dulu dan begitu selesai tolong artikel itu segera kirim ke redaksi atau saya yang mengambil…”
    “Iya, Pak. Biar saya saja yang mengantar.”
    Ada kesejukan yang mengalir di kepalaku mengiringi kepergian Andi, murid yang paling banyak mendapat skor pelanggaran. Satu yang aku ingat dari kata-kata Bapak Andi. Bahwa ia ngotot pingin tetap sekolah di sekolah dimana sekarang saya mengajar. Keinginan ini pula yang akan saya lihat buktinya dari Andi. Ya, Allah berilah kemudahan pada anak itu untuk berubah menjadi siswa yang baik

    (Sing Nulis: Edris)


Top